Global Marketing Communication’s Weblog

Februari 26, 2008

Ericsson, Change Their Tactic to Go International with Sony

Diarsipkan di bawah: Studi Kasus Individu — nataliacarolina @ 7:41 am
Tags:

Natalia Carolina (0905010581)

Ericson, salah satu merek / brand ternama telepon genggam internasional, namun tanpa terasa nama Brand itu seakan hilang dan kita lebih familiar dengan nama Sony Ericson. Sebenarnya Ericson bukannya menghilang sama sekali. Sejak mengalami kebangkrutan-akibat kalah bersaing dengan nokia- pada akhir tahun 90-an, Ericson melakukan merger dengan perusahaan Sony pada Oktober 2001.

 

Sony Ericson Mobile Communications merupakan perusahaan bentukan, yang sahamnya dimiliki oleh masing-masing perusahaan yang bergabung, yaitu Ericson, perusahaan mobile besar di dunia asal Swedia dengan Divisi Mobile Communication Sony Corporation asal Jepang.

 

Perpaduan dua raksasa penguasa teknologi dunia ini ternyata berhasil memadukan kemampuannya untuk bersaing dalam kompetisi internasional produk ponsel. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mengalahkan saingan terbesarnya Nokia dan Motorola. Menurut International Data Corp (IDC), Nokia menduduki posisi pertama dalam market share tingkat global, yaitu 30,8 %, disusul Motorola dengan 14,6%, dan posisi ketiga ditempati oleh Ericson dengan 10% (2000). Sedangkan Sony dalam kancah pasar ponsel sendiri tidak menduduki 5 besar market share (IDC,2000).

 

Pada dasarnya, perusahaan Ericson adalah perusahaan yang berhasil dalam teknologi mobile khususnya ponsel, terbukti dengan peringkat 3 market share menurut IDC, namun di sini yang keliru adalah Ericson tidak bisa memasarkan produknya secara internasional. Produknya hanya terfokus pada produknya, tidak dengan apa yang disebut dengan needs and wants dari customers. Program pemasaran yang baik adalah program pemasaran yang mampu mengerti dan menawarkan produknya sesuai dengan needs dan wants customer.

 

Pemasaran memiliki Four Ps (4P) yaitu product, prices, place, dan promotion. Pemilihan produk, penentuan harga, pengelolaan distribusi, dan implementasi periklanan dan program-program promosi. Metode ini berfokus pada kemampuan produsen untuk melakukan keempat elemen penting pemasaran tersebut. Namun sekarang metode pemasaran seperti itu mulai bergeser-apalagi untuk pemasaran global. Kemudian mulai muncul Integrated Marketing Communication, yaitu suatu program pemasaran yang mengintergrasikan semua elemen komunikasi yang bisa dianggap efektif secara taktik ke dalam eksekusi pemasaran tersebut. Dulu, periklanan menjadi satu tumpuan besar dalam berpromosi (disebut dengan metode tradisional, above the line), sekarang dengan IMC elemen seperti sales promotion, direct marketing, dan public relations turut disertakan. Teknik seperti pemberian diskon, pengadaan contest, event, dan sebagainya dapat menjadi elemen IMC juga. Metode IMC sering disebut dengan metode below the line – disebut demikian sebab metode ini biasanya menggunakan budget yang lebih rendah daripada metode above the line. Bedanya lagi, above the line dianggap sebagai usaha membangun brand image jangka panjang.

Beberapa dorongan yang membuat munculnya IMC: 
1.      Perkembangan Digital Technology, yang mampu menembus semua bidang
2.      Meningkatnya perhatian terhadap Brands sebagai modal dalam berkompetisi
3.      Meningkatnya fokus pada tindakan multinasional dan globalisasi, yang menembus batas geografi

Ericsson, Change Their Tactic to Go International with Sony (part 2)

Diarsipkan di bawah: Studi Kasus Individu — nataliacarolina @ 7:40 am
Tags:
Natalia Carolina (0905010581)

Sony Ericson mampu memanfaatkan 3 dorongan ini untuk memajukan pemasarannya dalam tingkat global. 
Dalam bidang teknologi, Sony dan Ericson adalah ahlinya. Mereka merupakan perpaduan yang tepat, 
walaupun pada awal bersatunya Sony dan Ericson muncul banyak kritik. Sony dan Ericson memiliki 
sifat yang komplementer, saling melengkapi satu sama lain. Pertama, Sony expert di bidang audio, 
video, game, komunikasi dan teknologi informasi produk untuk konsumen dan pasar profesional. 
Dengan musiknya, gambarnya, hiburan komputer, dan bisnis on-line-nya, Sony memimpin. 

Sedangkan Ericson, mempunyai prospek yang bagus dalam bidang mobile and broadband internet communications 
karena memang Ericson memimpin di bidang ini. Jadi, untuk segi inovasi produk, mereka perusahaan yang mapan. 
Kemampuan Sony Ericson untuk mendekatkan diri dengan cutomer-nya juga sangat baik. Sony Ericson mempunyai 
website untuk mengetahui detail produk-produk Sony Ericson, bahkan sistem informasi ini dilengkapi dengan layanan 
perbandingan handphone antar tipe Sony Ericson, dan aplikasi fitur handphone yang diinginkan- kta bisa mengakses 
aplikasi untuk mencoba fitur-fitur yang ada dalam handphone(ukuran handphone, warna, menu, dan media aplication).    
 
Globalisasi juga menjadi tumpauan Sony Ericson, pasarnya mencapai hampir di seluruh dunia. Ditambah lagi, website 
Sony Ericson dibuat secara internasional, masing-masing region memiliki website dengan bahasa masing-masing, mulai 
dari benua Amerika, Timur Tengah, Afrika dan Asia Pasific. 

Sony Ericson sekarang memiliki Brand dan Logo Baru. Brand name- nya adalah ”Sony Ericson”, dan logo sebagai simbol 
dengan warna hijau organic. Sony Ericson mengeluarkan empat kategori produk, yaitu ponsel berkamera (imaging), 
gaya hidup (lifestyle), musik (walkman phone), dan ponsel bisnis. Produk ponsel Sony Ericson untuk setiap  region 
disesuaikan dengan selera masing-masing. Contoh: produk yang dipasakan di Jepang berbeda dengan yang dipasarkan 
di Eropa, bentuknya lebih minimalis dan sangat trendy. Produk Sony Ericson w910i untuk pasar Inggris, Indonesia dan 
Amerika, di China dibuat sedikit berbeda, disebut dengan tipe w908c, mirip dengan w910i, tetapi tanpa 3G. 

Meskipun demikian Sony Ericson kini sudah mampu mengkokohkan Brand-nya di pasar internasional bersanding dengan 
Nokia dan Motorola tanpa dibayang-bayangi image Ericson-handphone yang tidak laku di pasaran. 
 
Strategi memadukan 2 perusahaan besar Sony dan Ericson ini ternyata juga membawa peningkatan pada penjualan. 
Pada pertengahan tahun 2003, penjualan Sony  Ericson meningkat tajam yaitu 34% lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. 
Penjualan bersihnya senilai 1.125  million Euro.  
 
Sony Ericson melakukan beberapa tindakan IMC, antara lain:
·         Sony Ericson menggelar permainan ponsel multiplayer pertama di Indonesia pada tanggal 17 Desember 2003 hingga 8 Februari 2004
     bersama dengan Indosat Multimedai Mobile (IM3), dan Game Online Inova. Permainan yang di gelar adalah catur jawa, catur dan 
   conveto yang ditujukan pada para pengguna kartu IM3.
·        Sony Ericsson menjadi Women Tennis Association [WTA] Tour 's worldwide title sponsor in a landmark dengan deal sebesar 
88 million (6 tahun kontrak, merupakan sponsorship terbesar dalam sejarah pertandingan tenis wanita), yaitu Sony Ericson WTA Tour.
 Ini merupakan ajang pertandingan tenis perempuan yang diikuti oleh1,300 peserta yang mewakili 76 negara (2006).
 
Intinya, Jika suatu perusahaan tidak bisa menguasai komunikasi, jika tidak dapat menggunakan komunikasi untuk mempengaruhi 
customer, jika tidak bisa mengubah Brand dan Brand Relationship menopang kompetisi, dan jika perusahaan tidak mampu mendapatkan
Brand Loyalty dari customer, maka perusahaan itu sepertinya tidak akan bertahan.
 

Februari 25, 2008

IMC: Unilever’s “LUX”

Diarsipkan di bawah: Studi Kasus Individu — anindhityasasti @ 7:52 pm

4P (product, price, place, promotion) mulai ditinggalkan karena tidak berorientasi pada pelanggan maupun keuntungan, seakan-akan suplai konsumen dan prospek tak terbatas.Sales promotion, direct marketing, dan PR adalah cara yang dianggap dapat mempengaruhi perilaku konsumen dan prospek di pasar yang semakin simpang siur. Teknik below the line (diskon, kontes, dll) banyak digunakan untuk menaikkan penjualan dalam satu kurun waktu. Periklanan, dianggap “above the line” digunakan untuk membangun image brand dalam jangka panjang.Permintaan terhadap sales promotion meningkat dan mulai melebihi periklananà IMC dibutuhkan.Tiga hal yang terjadi tahun 1980-an, menyebabkan IMC naik daun:

  1. Perkembangan teknologi. Teknologi komputer tahun 1990-an memungkinkan perusahaan untuk dekat dengan konsumennya. Kini dengan adanya internet, hal itu bahkan lebih mudah lagi untuk dilakukan.
  2. Meningkatnya penekanan pada merk (brand). Branding menjadi cara untuk membedakan satu produk dengan produk lainnya. Karena banyaknya produk yang serupa, aksi tiru-meniru (copycat) tak dapat dihindarkan. Cara untuk membedakan produk adalah dengan membangun branding—image produk, USP, dll.
  3. Globalisasi. Saat semua produk menjadi global, perusahaan harus merubah strategi komunikasinya.

 Unilever, sebuah perusahaan multinasional yang sudah mapan dan terpercaya adalah sebuah perusahaan yang dibentuk pada tahun 1930. Sejak tahun 1900-an, Unilever terkenal dengan produk yang berbahan dasar minyak dan lemak—yaitu sabun dan margarin. Walau sekarang ini produk Unilever mencakup hampir semua kebutuhan sehari-hari—sampo, sabun cuci, pasta gigi, sup, saus, es krim, minuman, makanan ringan, dll—namun keunggulan Unilever tetaplah di bidang sabun mandi.Sabun Lux adalah salah satu produk sabun mandi yang diproduksi Unilever. Lux adalah sabun pertama yang dipasarkan secara massal dan besar-besaran saat sabun ini diluncurkan pada tahun 1924. Bersama dengan Unilever, Lux merupakan salah satu produk Unilever yang meraup kesuksesan saat mulai dipasarkan secara global. Saat ini, Lux mencapai penjualan global tahunan sebanyak lebih dari 1 miliar Euro.Selain memiliki produk yang memang memiliki keunggulan, kegiatan IMC yang banyak dilakukan Unilever untuk produk Lux banyak memberikan dampak positif terhadap penjualan produk ini.Seperti yang kita tahu, produk sabun di seluruh dunia ada banyak sekali. Lux hanyalah salah satunya. Untuk membedakan Lux dari sabun-sabun lain dan menjaga penjualan jangka panjang, diperlukan “branding”, untuk menegaskan image dari brand Lux. Image Lux adalah sabun kecantikan yang mewah. Positioningnya sebagai sabun yang membuat wanita di seluruh dunia merasa cantik dan dapat memancarkan kecantikannya. Tagline: “Play Your Beauty”. Branding ini dilakukan dengan menggelar event-event yang bisa menunjukkan image tersebut dan mendekatkan diri dengan konsumennya. Iklan-iklan Lux pun menunjukkan image itu, yaitu dengan menggunakan wanita-wanita cantik dari berbagai negara (setiap negara memiliki ikon Lux sendiri) bahkan menggunakan Miss. Universe sebagai endorser. Untuk penjualan jangka pendek, Lux juga menggunakan stratgei below the line dengan promosi “beli 2 gratis 1” dan lain sebagainya. Public relation juga merupakan poin plus bagi IMC Lux. PR Lux berhasil mengembalikan kepercayaan publik kepada Lux pasca kasus Lux dengan mantan endorsernya di Indonesia, Bella Saphira, yang menggugat Lux karena iklan outdoor Lux dengan Bella sebagai modelnya masih terpasang padahal kontrak sudah selesai. Namun, kasus itu ternyata tidak mempengaruhi penjualan Lux secara signifikan.

21st Century Global Marketplace: Unilever’s “Sunlight”

Diarsipkan di bawah: Studi Kasus Individu — anindhityasasti @ 7:51 pm

Empat elemen yang merubah pasar menjadi global:

  1. Digitalisasiàsemua jadi pakai komputer, berimbas pada usaha seperti cetak foto
  2. Teknologi informasiàsemua alat, teknik, yang bisa mentransfer pengetahuan dan data secara cepat dan mudah ke seluruh dunia
  3. Properti intelektualàpengetahuan, pengalaman, pengertian, dan kebisaan
  4. Sistem komunikasià didesain untuk mendistribusikan konten ke banyak orang

 The Manufacturer-Driven MarketplaceProdusen memegang peranan besar di pasar. Penjual membawa dagangan ke pasar, di mana pembeli datang mencari apa yang mereka butuhkan. Komunikasi terjadi hanya dari produsen ke konsumen dan tidak sebaliknya, melalui pasar maupun media. The Distribution-Driven MarketplaceDistribusi mendominasi penjual dan pembeli. Komunikasi terjadi dari produsen ke konsumen, bisa secara langsung maupun lewat jalur distribusi. The Interactive MarketplaceKekuatan pasar ada di tangan konsumen. Produsen dapat mengontak konsumen langsung. Pembeli mengontak produsen secara langsung atau lewat jalur distribusi atau lewat media. The Global MarketplaceProduksi, distribusi, dan sistem pemasaran sudah tak ada batas. Seluruh dunia adalah produsen dan konsumen.Perusahaan berkembang: domestikàmultidomestikàglobalPerusahaan yang beroperasi secara internasional didorong oleh:

  1. Determinan internal: tipe produk/jasa, fasilitas produksi, jenis manajemen, cara bekerja, dll
  2. Determinan eksternal: budaya, bagaimana perusahaan telah memasuki pasar baru, operasional (infrastruktur, penyesuaian fungsional, daur hidup produk).

 Produk pencuci piring Sunlight dari perusahaan Unilever adalah salah satu contoh produk yang berhasil mengembangkan pasarnya sampai ke pasar global. Pada tahun 1890-an, William Hesketh Lever, pendiri perusahaan Lever Bros, menulis idenya tentang sabun Sunlight—produk revolusionernya yang membantu kebersihan dan kehigienisan di Inggris. Sunlight diciptakan untuk membiasakan kebersihan, membantu pekerjaan para wanita, meningkatkan kesehatan, dan meringankan hidup. Perusahaan Lever Bros yang memproduksi Sunlight adalah salah satu perusahaan cikal bakal Unilever. Lever Bros dan beberapa perusahaan lainnya memutuskan untuk merger pada tahun 1920-an dan mendirikan Unilever pada tahun 1930, membawahi lebih banyak lagi produk-produk yang berkonsentrasi pada kebersihan dan perawatan diri.Awalnya produk Sunlight ini masuk ke dalam pasar interaktif, di mana produk berada di pasar dan konsumenlah yang memiliki kekuatan untuk memilih produk mana yang mau ia beli dan komunikasi pun terjalin bebas di pasar tersebut. Sunlight pun sukses di Inggris dan di bawah Unilever yang merupakan perusahaan besar dan terpercaya, Sunlight pun mulai menjadi produk multidomestik dan masuk ke negara-negara Eropa lainnya.Sunlight terbukti memiliki keunggulan dibanding produk lainnya, Unilever pun memiliki fasilitas produksi yang baik, etos kerja yang baik, dan managemen yang dapat diandalkan. Faktor internal ini sangat membantu saat produk Sunlight memutuskan untuk memasuki pasar global. Kini, Sunlight dan perusahaan Unilevernya sudah memasuki pasar di 100 negara di seluruh dunia.Tentunya ada perbedaan yang ada di perusahaan dengan pasar global, terutama di negara dengan budaya yang sama sekali berbeda. Namun, Sunlight berhasil melaluinya dengan mulus. Sunlight beberapa kali membenahi dirinya untuk mengikuti budaya yang ada—tidak terlalu licin namun tetap banyak busa, saat dibilas kesat dan bersih, serta tidak tercium bau sabun. Sunlight pun memperhatikan keluhan para wanita yang menggunakannya dengan menggunakan formula yang ramah di kulit sehingga tidak merusak tangan saat mencuci piring.

Februari 19, 2008

uji coba

Diarsipkan di bawah: Pengenalan — irwansyah08 @ 11:06 pm

kita sedang demontrasi…

Tre, Three, atau Tri? Terserah anda…

Diarsipkan di bawah: Studi Kasus Individu — afra88 @ 11:05 pm

Pada pertengahan tahun 2007 kemarin Indonesia kedatangan operator GSM baru bernama 3 atau Tri. Layanan GSM baru ini diprakarsai oleh korporat global asal Hongkong yaitu Hutchison Whampoa Limited (HWL) denga anak perusahaan telokomunikasinya Hutchison CP Telecommunications Indonesia (HCPT). Hutchison Telecom International merupakan salah satu perusahaan layanan telekomunikasi terbesar di dunia. Layanan telekomunikasinya sudah menjangkau 15 negara di dunia dari benua Asia, Australia, dan Eropa.

Dilihat dari segi pemilihan merek, nama 3 memang cukup unik untuk sebuah layanan telekomunikasi selular. Merek 3 sendiri diciptakan agar 3 dapat diaplikasikan ke berbagai negara dengan masyarakat yang berbeda. Merek ini harus dapat beradaptasi dengan budaya lokal namun tetap menjaga identitasnya. Karena itulah 3 disebut Three di Inggris, Australia dan Irlandia, Tre di Italia, Drei di Austria dan di Indonesia disebut Tri. Tri menghadirkan berbagai layanan telekomunikasi dari 2G hingga 3G. Singkat kata, 3 adalah merek yang mendunia namun berwawasan lokal. Dengan penyesuaian ini, 3 membawa masyarakat Indonesia untuk menjadi bagian dunia tanpa menghilangkan ciri khas budayanya.

McDonald’s, Berpikir Secara Global dan Bertindak Secara Lokal

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — la2ui05 @ 11:00 pm

Pengaruh Lingkungan Ekonomi Global terhadap Expansi Walt-Mart

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — la2ui05 @ 10:59 pm

Ela Bestia-0905010263

Pada dasarnya system ekonomi dunia terbagi atas tiga tipe yaitu:

<!–[if !supportLists]–>1.      <!–[endif]–>Sistem pasar / kapitalis, contoh: A.S, Negara-negara di Eropa, Jepang

<!–[if !supportLists]–>2.      <!–[endif]–>Sistem komando / sosialis, contoh: Cina

<!–[if !supportLists]–>3.      <!–[endif]–>Sistem campuran (gabungan antara system pasar dan sistem komando), contoh: Indonesia

Pembagian Negara berdasarkan pendapatan perkapita:

1.  Low-income Countries (Negara berpenghasilan rendah/ negara sedang berkembang).

GNP per Capita < $786

2.  Lower-Middle-Income Countries (Negara berpenghasilan menengah ke bawah)

Masih dikategorikan negara sedang berkembang.

GNP per Capita antara $785-$3,125.

3.  Upper-middle-income Countries (Negara berpenghasilan menengah ke atas / Negara industri).

GNP per Capita antara $3,126-$9,655.

4.  High-Income Countires (Negara berpenghasilan tinggi/ Negara maju)

GNP per Capita di atas $9,655.

5.  Basket Cases (Negara dengan masalah ekonomi, sosial, politik yang serius)

Tiga peringkat Negara dengan pasar terbesar di dunia:

1.      <!–[endif]–>Amerika Serikat, GNP per Capita US$41,400 (World Bank,2005)

2.      <!–[endif]–>Jepang, GNP per Capita US$37,180 (World Bank,2005)

3.      <!–[endif]–>Jerman, GNP per Capita US$30,120 (World Bank,2005)

Ketiga Negara tersebut tergolong negara maju yang menganut system ekonomi pasar yang berbasiskan persaingan bebas, dan menjadi dominan di pasar global.

Contoh kasus: Walt-Mart (perusahaan A.S yang sukses berekspansi secara global)

Walt-Mart adalah perusahaan pengecer kelas dunia yang berasal dari Amerika Serikat. Awalnya Walt-Mart hanya berbasis 2.200 toko di Amerika Serikat dengan penjualan kurang dari $85 miliar dolar pada awal 1990-an, lalu penjualan meledak sebesar $137 miliar. Tahun 1993, Walt-Mart mulai berekpansi dengan membeli 122 buah toko Woolco di Kanada.

Terdorong  oleh NAFTA (perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara), Walt-Mart dengan cepat bergerak menuju Meksiko dan membentuk usaha patungan dengan lebih 400 buah toko di Meksiko. Lalu usaha patungan diperluas ke Hongkong dengan Ek Chor Distribution System Co. Ltd. Walt-Mart mendirikan beberapa Value Club, yang menjadi batu loncatan menuju Cina Daratan (Negara dengan penduduk paling padat di dunia dan pasarnya kelas menengah yang sedang tumbuh). Melalui Ek Chor, perusahaan yang sebenarnya dimiliki oleh C.P. Pokphand dari Bangkok, Walt-Mart mmasuki pasar Thailand dan juga Indonesia. Tahun 1995, pengecer kelas dunia tersebut membidik arah selatan, menuju Amerika Selatan dengan toko-toko tersebar di Brazil, Argentina, dan Chili.

Jika ditilik Negara-negara diatas, kebanyakan merupakan pasar yang sedang berkembang dengan populasi penduduk yang cukup besar. Persediaan Walt-Mart yang berupa barang dagangan bermerek dengan diskon besar menawarkan kualitas  kepada konsumen pasar yang sedang berkembang dengan harga yang dapat mereka jangkau.

Untuk tahap berikutnya, Walt-Mart nekat memasuki pasar Jerman. Jerman yang tergolong Negara berpenghasilan tinggi ini merupakan pasar ketiga terbesar di dunia  (setelah Jepang dan Amerika Serikat). Dengan notabene pengecer barang harga murah, Walt-Mart dirasa kurang sesuai memasarkan produknya di Negara tersebut, apalagi Jerman terkenal memiliki pasar yang sangat keras. Tetapi dengan berbagai strategi pemasaran global, Walt-Mark berhasil membuktikan dalam satu setengah tahun menjadi pengecer nomor empat di Negara Jerman tersebut.

Sumber:

Keegan, Warren J.(2002). Global Marketing Management, Seventh Edition, New Jersey:                 Prentice Hall, Inc.

Kotler, dan Amstrong. (2004). Dasar-Dasar Pemasaran. Edisi 9, Jakarta: PT. Indeks         Kelompok Gramedia.

Gayo, Iwan. (2006). Buku Pintar Seri Senior. Edisi 38, Jakarta: Pustaka Warga Negara

Global Marketing Communication’s Weblog

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — imlek @ 10:59 pm

Sushi Tei: Kombinasi Rasa Otentik dan Global

Diarsipkan di bawah: Studi Kasus Individu, Uncategorized — imlek @ 10:58 pm

Kombinasi Rasa Otentik dan Global 

Jepang adalah sebuah negara yang tidak diragukan lagi kekuatannya di dunia. Namun semua itu tidak membuat Jepang melupakan budaya dan tradisinya. Walaupun sudah menjadi negara yang terpandang, orang Jepang sama sekali tidak kehilangan jati dirinya. Mereka tetap bangga dengan pakaian, makanan, serta bahasanya sehingga sangat menjunjung tinggi budayanya. Kecintaan mereka pada budayanya sendiri, yang justru menjadi salah satu kekuatan dalam menghadapi persaingan global. Bangsa Jepang tidak begitu saja meninggalkan budaya tradisionalnya, bahkan sebaliknya mereka justru memperkenalkan budaya ini ke mancanegara. Bukti paling mudah adalah kita mengenal begitu banyak makanan Jepang ada di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bahkan mereka mampu mengekspor budaya mereka ke Indonesia melalui makanan khas mereka yang sudah terkenal, salah satunya sushi. Secara tak langsung ekspor budaya Jepang ini terjadi lewat makanan khas Jepang tersebut yang sekarang tengah menjadi tren kuliner.

Hidangan khas Jepang ini berupa gumpalan nasi yang dikombinasikan dengan ikan, baik itu mentah maupun dimasak. Di luar Jepang, sushi sering disalahartikan sebagai ikan mentah itu sendiri, dan bahkan sushi diartikan sebagai segala sajian seafood yang segar dan mentah, padahal yang terakhir ini seharusnya disebut sebagai sashimi. Baik untuk sushi maupun sashimi, kesegaran bahan yang digunakan selalu menjadi penentu kualitas dan kelezatan. Tidak dapat dipungkiri, sushi adalah salah satu jenis makanan yang sedang ngetrend saat ini. Makan sushi telah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda saat ini, seperti makan hotdog atau hamburger dua puluh tahun yang lalu. Sushi semakin mudah didapatkan, baik di resto-resto sushi yang bertebaran di mana-mana, gerai-gerai sushi di food court, sampai di supermarket sekalipun.

Salah satu restoran Jepang yang menawarkan sushi sebagai menu andalan mereka adalah Sushi Tei. Sushi Tei telah berhasil melebarkan sayapnya di lima negara, yaitu Indonesia, Singapura, China, Thailand, dan Australia. Dengan didukung keahlian kuliner yang profesional, Sushi Tei tetap menawarkan keaslian cita rasa sushi terbaik sebagai perwakilan kekayaan kuliner Jepang. Namun Sushi Tei juga berhasil memadukan dengan citarasa kebudayaan lokal tanpa merusak cita rasa serta kebudayaan asli Jepang itu sendiri. Untuk dapat diterima di negara lainnya, Sushi Tei menciptakan kreasi baru. Konsep sushi yang segar, sehat, sederhana, dan stylish itu dikombinasikan dengan berbagai bahan makanan generasi modern yang membuat konsepnya berubah menjadi hidangan yang lebih unik, lezat, dan eatable bagi mereka yang tidak terlalu menyukai sajian mentah. Inilah yang disebut sebagai fusion sushi. Bahan-bahan seperti keju, mayonnaise, dan tepung tempura yang memberi kesan crunchy menjadi andalan. Sushi Tei menawarkan menu sushi dengan berbagai pilihan sesuai budaya lokal. Beberapa hidangan sushi ada yang sudah matang sehingga cocok bagi yang belum terbiasa dengan daging mentah. Pemakaian wasabi sebagai penguat rasa pedas dapat diganti dengan sambal.  Sushi tidak lagi melulu rasa Jepang, ada kombinasi antara identitas timur dan identitas barat. Yang jelas, tujuan menciptakan jenis sushi seperti itu tentu saja agar sushi disukai dan bisa dinikmati siapa pun.

 Imilia Lekawati(0905010395)

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.