Nama: Anindhitya
NPM: 0905010166
Social and Cultural Environment pada Perusahaan Unilever
Antropolog dan sosiolog mendefinisikan budaya sebagai “cara hidup”, dibangun oleh sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya adalah sebuah aspek yang penting dan perlu dipertimbangkan sebelum sebuah perusahaan melakukan perluasan usaha secara global ke negara lain. Kendala seperti bahasa, budaya yang berbeda, dan kebiasaan bisa menjadi hambatan terhadap keberhasilan perusahaan tersebut di negara lain.
Petualangan yang sangat penting bagi pemasar global adalah untuk menemukan budaya yang universal. Globalisasi budaya telah dikapitalisasikan oleh perusahaan yang mengambil kesempatan untuk menemukan pembeli di seluruh dunia.
Budaya konteks tinggi dan rendah juga amat menentukan bagaimana pesan akan disampaikan di negara yang bersangkutan. Di negara berkonteks rendah, pesannya eksplisit dan menggunakan kata-kata. Di negara berkonteks tinggi, pesan implisit dan banyak menggunakan simbol.
Kita harus mempelajari bahasa negara yang kita tuju dan tahu kebiasaan-kebiasaan di sebuah negara, apa yang pantas dan tidak, dll.
Environmental Sensitivity→ adalah sejauh mana sebuah produk harus diadaptasi kepada budaya dan kebutuhan dari pasar yang berbeda di setiap negara.
Unilever, sebagai sebuah perusahaan multinasional yang sudah mengembangkan usahanya ke banyak negara, tentunya sudah sangat berpengalaman dengan perbedaan budaya dan bahasa di negara-negara yang menjadi sasaran pengembangan usahanya.
Seperti yang sudah dibahas di atas, perusahaan-perusahaan besar yang memegang peranan untuk menemukan pembeli di seluruh dunia telah menciptakan budaya yang universal. Dalam hal ini, Unilever menemukan sebuah budaya yang universal: “cantik itu putih”. Unilever memanfaatkan kesempatan itu dengan produk Ponds-nya, yang sudah terkenal dengan rangkaian produk pemutih kulitnya.
Unilever juga sangat memperhatikan budaya yang ada di negara-negara yang ditujunya, apakah budaya konteks rendah atau konteks tinggi dan hal itu sangat mempengaruhi bentuk iklan dari produk-produk Unilever yang dipasarkan di sana.
Kebiasaan-kebiasaan serta apa yang pantas dan tidak pantas juga tidak luput dari perhatian Unilever. Contohnya saja, Unilever sadar bahwa di beberapa negara khususnya di Asia, materi iklan Dove dengan eksekusi kreatif berupa foto seorang wanita tua telanjang dianggap tidak pantas, karena itulah di negara-negara yang demikian iklan tersebut tidak ditampilkan. Unilever juga berusaha untuk “dekat” dengan negara yang ditujunya, misalnya saja dapat dilihat dari tagline Pepsodent, “Senyum Indonesia, Senyum Pepsodent”.
Unilever banyak sekali melakukan environmental sensitivity. Sewaktu pertama kali dipasarkan di Asia, produk sabun batangan Dove tidak mendapat sambutan yang baik. Setelah diteliti, hal ini dikarenakan sabun Dove dirasa oleh konsumen di Asia terlalu licin saat dipakai sehingga terasa kurang bersih. Di Asia, kepercayaan bahwa bersih itu kesat memang masih sangat kental. Selain itu, konsumen tidak suka sabun Dove karena sangat mudah menjadi lembek setelah dipakai. Hal ini dikarenakan kondisi negara-negara Asia yang lembap dan kebiasaan konsumen Asia untuk mandi dengan air yang banyak sehingga sabun Dove yang banyak mengandung moisturizer itu mudah menjadi lembek dan hancur. Setelah mengetahui fakta itu, sabun Dove untuk pemasaran di Asia dirubah agar menjadi lebih keras dan tidak terlalu licin.
Begitu pula dengan produk Sunsilk yang mengeluarkan varian Sunsilk Urang Aring khusus di Indonesia karena adanya kebutuhan dan kepercayaan di Indonesia bahwa rambut yang bagus adalah yang hitam berkilau dan di Indonesia urang aring dipercaya dapat menghitamkan rambut.