Sebagai salah satu perusahaan internasional yang ternama, Sony Ericsson tidak terlepas dari usaha untuk selalu beradaptasi dengan kebudayaan (culture) dari wilayah di mana produk Sony Ericsson dipasarkan. Berdasarkan pendekatan budaya, dikenal dua jenis budaya berdasarkan pengaruh komunikasinya, yaitu high-context dan low-context cultures. Negara-negara yang menganut high-context cultures seperti Jepang, Indonesia, Korea, dan negara-negara di Asia pada umumnya. Sedangkan negara-negara yang menganut high-context cultures adalah Amerika Serikat, Jerman, Inggris, dan lain-lain.
Kali ini akan dibahas mengenai pendekatan yang dilakukan Sony Ericsson di dua negara yang dianggap mewakili dua budaya high- dan low-context cultures tersebut yaitu Amerika Serikat dan Jepang. Seperti yang kita tahu bahwa Sony Ericsson memiliki keterkaitan yang erat dengan Jepang karena Sony sendiri merupakan brand yang identik dengan negara ini. Di Jepang, yang termasuk ke dalam high-context cultures, Sony Ericsson menggunakan pendekatan yang sifatnya lebih polychronic. Hal ini bisa dilihat dalam cara Sony Ericsson Jepang menyediakan informasi seputar produknya, yang salah satunya adalah melalui website resmi Sony Ericsson Jepang. Dalam tampilannya, website resmi Sony Ericsson Jepang dan Amerika Serikat sangatlah berbeda, terutama dari display atau tampilannya. Dalam website resmi Sony Ericsson Jepang, yang terlihat sangat menonjol adalah tampilan visual produk dibandingkan dengan kata-kata. Hal ini karena salah satu bentuk budaya polychronic adalah adanya bentuk komunikasi yang lebih bersifat indirect. Berbeda dengan website resmi Jepang, website resmi Sony Ericsson Amerika lebih bersifat langsung (direct), di mana tampilan visualnya tidak terlalu menonjol dibandingkan dengan tampilan informasi yang disusun dalam bentuk pointers.
Kedua hal ini menunjukkan adanya perbedaan yang jelas dalam melakukan pendekatan budaya. Yang dimaksud dengan komunikasi langsung (direct) dalam monochronic adalah di mana komunikasi yang terjalin sifatnya tidak bertele-tele, karena dalam budaya ini waktu adalah hal yang berharga. Hal ini mempengaruhi perusahaan dalam melakukan pendekatan marketing terhadap customernya. Karena itulah, Sony Ericsson membuat tampilan yang lebih sederhana dalam visual, namun lengkap dari segi informasi karena bagi masyarakat dalam budaya monocronic tidaklah penting siapa yang menyampaikan informasi, tetapi yang lebih penting adalah isi dari informasi itu sendiri. Sedangkan untuk website resmi Sony Ericsson Jepang, segi visual lebih ditonjolkan karena dalam budaya polychronic komunikasi yang bersifat tidak langsung merupakan pilihan utama. Selain itu, bahasa non-verbal juga lebih dipilih. Karena itu tampilan visual dengan tidak terlalu banyak kata-kata menjadi pilihan dalam website ini. Selain itu, tampilan dengan visual yang menonjol juga memberikan penekanan yang lebih kepada gaya hidup dan terkesan tidak terlalu ’menjual’ atau mendorong orang secara langsung dengan kata-kata yang persuasif.
Selain dari tampilan website, perbedaan juga dapat dilihat dari variasi produk Sony Ericsson terutama di Jepang. Terkait dengan nilai kepercayaan yang dianut oleh high-context culture, maka produk terbaru atau varian khusus lebih sering diluncurkan di Jepang. Selain karena Jepang merupakan rumah bagi SONY Corporation, hal ini juga dilakukan untuk membangun kepercayaan (baca: hubungan kolektif) dengan masyarakat Jepang sendiri. Rupanya hal ini merupakan salah satu bentuk Sony Ericsson dalam mengadaptasi budaya di Jepang. Dengan langkah-langkah ini, Sony Ericsson dapat dikatakan sebagai raja di rumah sendiri.
MUTHIA AMALIA
0905010565