Global Marketing Communication’s Weblog

April 15, 2008

SONY ERICSSON DAN KONTEKS BUDAYA

Diarsipkan di bawah: Studi Kasus Individu — muthia05 @ 6:03 am

 

Sebagai salah satu perusahaan internasional yang ternama, Sony Ericsson tidak terlepas dari usaha untuk selalu beradaptasi dengan kebudayaan (culture) dari wilayah di mana produk Sony Ericsson dipasarkan. Berdasarkan pendekatan budaya, dikenal dua jenis budaya berdasarkan pengaruh komunikasinya, yaitu high-context dan low-context cultures. Negara-negara yang menganut high-context cultures seperti Jepang, Indonesia, Korea, dan negara-negara di Asia pada umumnya. Sedangkan negara-negara yang menganut high-context cultures adalah Amerika Serikat, Jerman, Inggris, dan lain-lain.

Kali ini akan dibahas mengenai pendekatan yang dilakukan Sony Ericsson di dua negara yang dianggap mewakili dua budaya high- dan low-context cultures tersebut yaitu Amerika Serikat dan Jepang. Seperti yang kita tahu bahwa Sony Ericsson memiliki keterkaitan yang erat dengan Jepang karena Sony sendiri merupakan brand yang identik dengan negara ini. Di Jepang, yang termasuk ke dalam high-context cultures, Sony Ericsson menggunakan pendekatan yang sifatnya lebih polychronic. Hal ini bisa dilihat dalam cara Sony Ericsson Jepang menyediakan informasi seputar produknya, yang salah satunya adalah melalui website resmi Sony Ericsson Jepang. Dalam tampilannya, website resmi Sony Ericsson Jepang dan Amerika Serikat sangatlah berbeda, terutama dari display atau tampilannya. Dalam website resmi Sony Ericsson Jepang, yang terlihat sangat menonjol adalah tampilan visual produk dibandingkan dengan kata-kata. Hal ini karena salah satu bentuk budaya polychronic adalah adanya bentuk komunikasi yang lebih bersifat indirect. Berbeda dengan website resmi Jepang, website resmi Sony Ericsson Amerika lebih bersifat langsung (direct), di mana tampilan visualnya tidak terlalu menonjol dibandingkan dengan tampilan informasi yang disusun dalam bentuk pointers.

Kedua hal ini menunjukkan adanya perbedaan yang jelas dalam melakukan pendekatan budaya. Yang dimaksud dengan komunikasi langsung (direct) dalam monochronic adalah di mana komunikasi yang terjalin sifatnya tidak bertele-tele, karena dalam budaya ini waktu adalah hal yang berharga. Hal ini mempengaruhi perusahaan dalam melakukan pendekatan marketing terhadap customernya. Karena itulah, Sony Ericsson membuat tampilan yang lebih sederhana dalam visual, namun lengkap dari segi informasi karena bagi masyarakat dalam budaya monocronic tidaklah penting siapa yang menyampaikan informasi, tetapi yang lebih penting adalah isi dari informasi itu sendiri. Sedangkan untuk website resmi Sony Ericsson Jepang, segi visual lebih ditonjolkan karena dalam budaya polychronic komunikasi yang bersifat tidak langsung merupakan pilihan utama. Selain itu, bahasa non-verbal juga lebih dipilih. Karena itu tampilan visual dengan tidak terlalu banyak kata-kata menjadi pilihan dalam website ini. Selain itu, tampilan dengan visual yang menonjol juga memberikan penekanan yang lebih kepada gaya hidup dan terkesan tidak terlalu ’menjual’ atau mendorong orang secara langsung dengan kata-kata yang persuasif.

Selain dari tampilan website, perbedaan juga dapat dilihat dari variasi produk Sony Ericsson terutama di Jepang. Terkait dengan nilai kepercayaan yang dianut oleh high-context culture, maka produk terbaru atau varian khusus lebih sering diluncurkan di Jepang. Selain karena Jepang merupakan rumah bagi SONY Corporation, hal ini juga dilakukan untuk membangun kepercayaan (baca: hubungan kolektif) dengan masyarakat Jepang sendiri. Rupanya hal ini merupakan salah satu bentuk Sony Ericsson dalam mengadaptasi budaya di Jepang. Dengan langkah-langkah ini, Sony Ericsson dapat dikatakan sebagai raja di rumah sendiri.

 

 MUTHIA AMALIA

0905010565

IGMC Drivers: The IMC Study Outcomes Sony Ericsson

Diarsipkan di bawah: Studi Kasus Individu — nataliacarolina @ 4:25 am
Tags:

Global marketing muncul dan berjalan karena terdapat beberapa faktor penggerak, di antaranya terdapat faktor penggerak teknologi, kemudian faktor penggerak budaya (culture). Teknologi yang semakin maju memunculkan banyak media baru yang memungkinkan perkembangan komunikasi pemasaran seperti interactive television, Internet, E-commerce, interactive telephone, dan faxing. Hal ini menyebabkan perubahan segmentasi pasar, serta cara berkomunikasi dengan mereka. Kemudian faktor penggerak budaya lebih membuat komuniksi pemasaran tersegmen tetapi jangkauannya sangat luas. Budaya tertentu akan menerima komunikasi yang sesuai dengan budaya mereka.

 

Selain itu, pelaksanaan IMC dapat didasarkan juga sebagai berikut:

 

                                                  Driven by global forces

 

 Represents long-term                                                                           Requires evaluative

  structural changes                                                                          measurement mechanism

IMC

 

                                                                

 

Represent a dualistic formula                                          Requires new generalist                                                –Corporate and Brand                                                   breed of communicators

 

                                          Brings below the line activities toward

                                            greater, more strategic interactions                                                                     

 

Bagan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan tahun 1999 di 5 negara yaitu Amerika Serikat, Inggris, Australia, New Zealand, dan India. Studi ini menunjukkan bagaimana IMC itu berkembang dan apa yang penting bagi IMC. Penelitian ini menyarankan IMC dilakukan dan dikembangang sebagai respon kepada, dan berhubungan dengan perubahan yang secara affective merubah field of marketing secara global. IMC dapat dilakukan dan dilaksanakan tergantung dari perusahaan yang memutuskan. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa dapat disepakatai mengenai standart of meaning, tetapi sulit untuk menentukan standart of practice. Jadi, IMC secara praktiknya disesuaikan dengan perushaan dan prduk masing-masing dan negara yang dimasuki sebagai pasar. Tetapi, terdapat standat of meaning di mana terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dari pelaksanaan IMC seperti tergambar di bagan di atas.

 

Case Study: Sony Ericsson

·        Driven by global forces.

Sony Ericsson merubah komunikasi pemasarannya berdarakan dorongan global.teknologi, budaya, dan lifestyle menjadi pendorong bagi SE untuk melakukan positioning.

·        Requires evaluative measurements mechanism

SE akan meningkatkan investasi untuk bagian research untuk mencapai perkembangan yang lebih baik. Annual Report dialkukan setiap tahun. Tiap tahunnya terdapat evaluasi yang dibagi menjadi 4 quarter yaitu tiap 3 bulan sekali.

·        Brings below the line activities toward greater, more strategic interactions

SE memunyai implementasi IMC yang bersifat below the line yaitu website dan sponsorship WTA Tour (turnamen tennis dunia) dan Empire (pemilihan the best scene).

·        Represents a dualistic formula-corporate and brand

SE selalu menyertakan 2 sisi penting dalam setiap kali beriklan atau berpromosi yaitu corporate dan Brand. Sudah menjadi satu kesatuan Sony ericsson sebagai corporate dan Brand. SE meyakinkan seluruh stakeholder yang ada bahwa kinerja SE sebagai perusahaan atau corporate itu kredibel. Di mata konsumen, SE meyakinkan image dan kemampuan SE sebagai Brand untuk mengaktifkan lifestyle.

·        Represents long-term strutural changes

SE sebagai Brand dan perusahaan sangat memperhatikan hal yang bersifat jangka panjang. Segala visi SE ditentukan untuk masa depan, dalam jangka waktu yang lama. Baik dari sisi management, innovation of product, marketing communication dimulai dengan visi masa depan ini. SE mentargetkan masuk 3 besar market leader di pasar mobile communication.

 

“The company’s portfolio comprises mobile and fixed network infrastructure, and broadband and multimedia solutions for operators, enterprises and developers. The Sony Ericsson joint venture provides consumers with feature-rich personal mobile devices.”

April 8, 2008

Do You Have a Honda?

Diarsipkan di bawah: Studi Kasus Individu — anindhityasasti @ 3:52 pm

Pelanggan ingin dianggap serius, dihargai. Mereka mencari hubungan dengan perusahaan yang ingin memasarkan produk kepada mereka. Perusahaan yang bisa menerapkan ini, akan bisa menarik pelanggan dan berhasil merubah perilaku mereka menjadi loyal customer.

Honda dimulai sekitar 58 tahun lalu, oleh Soichiro Honda yang memiliki mimpi membuat kendaraan yang murah tapi dapat diandalkan untuk mengatasi masalah transportasi di Jepang pada saat itu. Sekarang Honda adalah perusahaan motor terbesar di dunia dan perusahaan mobil ketiga terbesar di dunia. Perusahaan ini kini sudah amat besar dan memiliki diversifikasi produk yang amat banyak, dari motor, mobil, peralatan mobil, peralatan kapal laut, bahkan sampai pesawat jet. Semua ini mungkin karena Honda berhasil menerapkan strategi komunikasi pemasaran globalnya untuk mengendalikan mindset pelanggannya dan menjadikan mereka pelanggan setia.

Semua strategi komunikasi dimulai dengan objective. Pada Honda tujuannya adalah “to make people believe that everyone has a dream, some goal or activity that gives their life deeper meaning and sparks passion”. Setiap komunikasi Honda menekankan hal ini. Honda juga adalah perusahaan yang initiative (mengambil posisi yang proaktif)—bukannya membiarkan kompetitor memulai, Honda membuat terobosan dan melakukan perubahan untuk keinginan pelanggan hari ini dan seterusnya. Hal ini bisa dilihat dari terobosan Honda menciptakan mobil hybrid sebagai jawaban dari keinginan pasar untuk mobil ramah lingkungan. Honda benar-benar berkonsentrasi pada pasar sasarannya, di mana mereka bisa mendapatkan ROCI terbesar. Mereka membidik laki-laki dan perempuan, 35-40 tahun dengan SES A+, A, B+, dan B. Honda tidak takut melakukan maneuver, yaitu kemauan untuk berubah dan beradaptasi saat dan di mana dibutuhkan. Di beberapa negara di mana Honda Fit dipasarkan, nama mobil ini diubah menjadi Honda Jazz karena pada bahasa setempat, Fit berarti kelamin wanita.

Pada setiap kampanyenya, Honda sangat memperhatikan unity of command, di mana hanya ada satu pemimpin yang mengontrol semua kampanye namun tetap harus ada koordinasi untuk menentukan maneuver, initiative, dll. Di semua bagian di dunia, jika tidak menggunakan pesan yang sama, maka komunikasi Honda setidaknya harus mengkomunikasikan nilai yang sama, yaitu Fun, Clean, and Safety. Pesan yang simpel dari Honda seringkali lebih mengena bagi konsumennya. Flexibility juga merupakan hal yang penting dalam IGMC. Pesan dan media boleh berubah, namun nilai yang terefleksikan dalam konsumen harus tetap sama. Namun, perubahan radikal dalam nilai harus diawasi dan bila perlu dilakukan adaptasi. Misal, dulu orang-orang menganggap dengan adanya sabuk pengaman maka mobil itu sudah safe, namun sekarang untuk mengklaim dirinya sebagai mobil yang safe, Honda melengkapi setiap mobilnya dengan side airbags, pedestrian safety, anti-lock braking system, vehicle stability assist, dan seat belts. Begitu pula dengan konsep Clean, kini tidak cukup dengan hemat bahan bakar dan lulus uji emisi, namun juga ramah lingkungan seperti mobil hybrid.

Why are Honda vehicles so highly regarded by their drivers? Certainly, their excellent reputation for reliability and quality is a major factor. But it also has to do with the overall driving and owning experience. Read any Honda review and you’ll likely notice common themes such as thoughtful design, a friendly nature, better-than-average fuel economy and attention to safety.

 

April 7, 2008

SONY ERICSSON DAN STRATEGI DALAM MEMAHAMI CUSTOMER MIND-SETS

Diarsipkan di bawah: Studi Kasus Individu — muthia05 @ 11:50 pm

Setiap orang ingin dihargai. Dasar itu juga yang menjadi pertimbangan dalam setiap kegiatan, termasuk bisnis. Dalam dunia usaha penghargaan terhadap setiap individu merupakan hal penting untuk mencapai kesepakatan baik antar pengusaha dan kliennya, antara pemilik dan pegawai perusahaan, serta antara perusahaan dengan customernya. Hal itulah yang saat ini berusaha diwujudkan oleh mereka yang berkecimpung di dunia persaingan bisnis, tak terkecuali yang sifatnya global.

Mereka yang berkompetisi di tingkat global selalu berusaha menerapkan strategi komunikasi pemasaran yang selalu melibatkan analisis terhadap customer dan consumer mind-sets. Maksudnya adalah dalam menentukan setiap langkah-langkah yang disusun ataupun strategi yang digunakan, perusahaan-perusahaan tersebut akan selalu mempertimbangkan kebutuhan dan keinginan customer serta konsumennya. Hal ini memang harus dilakukan karena mengingat saat ini konsumen adalah pihak yang memiliki kebebasan untuk mencari dan menggali informasi. Mereka semakin pintar, terutama dalam memilih apa yang dianggap dapat memenuhi kebutuhan mereka secara maksimal. Karena itu, brand yang ada haruslah pandai-pandai melihat apa yang sekiranya dianggap memberikan keuntungan dan nilai lebih bagi konsumen.

Hal ini juga dilakukan oleh Sony Ericsson selaku brand ternama di bidang telekomunikasi. Sebagai salah satu brand yang terkemuka, Sony Ericsson selalu berusaha menampilkan produk-produk yang dapat memenuhi kebutuhan para customernya. Hal ini terlihat dari berbagai fitur yang ditawarkan dalam berbagai varian telepon seluler yang dikeluarkannya. Berdasarkan diagram The Nexus of Marketing Strategy yang dikembangkan oleh William Cohen, terdapat sepuluh elemen yang digunakan dalam menyusun strategi di mana customer dan konsumen merupakan orientasi utamanya. Sepuluh elemen tersebut ialah Objective, Initiative, Concentration, Economy of Resources, Maneuver, Unity of Command, Coordination, Surprise, Simplicity, dan Flexibility. Salah satu elemen yang akan dibahas kali ini adalah Maneuver.

Maneuver diartikan sebagai keinginan untuk berubah, berkembang, serta beradaptasi kapanpun dan dimanapun saat dibutuhkan. Salah satu caranya ialah dengan melakukan diferensiasi produk. Seperti yang telah diketahui bahwa Sony Ericsson memiliki berbagai jenis varian produk. Dalam hal ini, maneuver yang dilakukan oleh Sony Ericson adalah dengan menggunakan pendekatan lokal dalam menciptakan produk yang dianggap sesuai dengan kebutuhan customer dan konsumennya di berbagai wilayah. Misalnya saja yang sudah sangat familiar kita kenal adalah produk walkman phone dan cyber shot-nya. Varian ini berada dalam top priorities karena mengingat bahwa customer Sony Ericsson, yang sebagian besar adalah anak muda, lebih mementingkan fitur-fitur seperti ini dalam telepon selulernya.

Contoh lain dari strategi Sony Ericsson dalam memahami mind set customer dan konsumennya dapat dilihat dari varian produk yang dikeluarkan di India. Seperti yang kita tahu bahwa India merupakan negara pengahsil film yang produktif setiap tahunnya. Masyarakatnya juga memiliki antusiasme yang tinggi terhadap kemunculan film-film baru. Hal inilah yang berusaha dilihat oleh Sony Ericsson. Di India, Sony Ericsson mengeluarkan edisi ponsel yang memungkinkan penggunanya men-download cuplikan-cuplikan film favorit mereka, terutama yang baru beredar di pasaran. Hal ini dilakukan karena melihat pangsa pasar pecinta film layar lebar yang jumlahnya sangat banyak di India. Untuk itulah Sony Ericsson menyisipkan fitur ini untuk mengakomodasi keinginan para konsumen dan customernya.

MUTHIA AMALIA

0905010565

Maret 21, 2008

Message Strategy of Sony Ericsson

Diarsipkan di bawah: Studi Kasus Individu — nataliacarolina @ 7:36 am
Tags:

Dalam 8 langkah implementasi Integrated Global Marketing Communication, salah satu langkahnya adalah menyangkut message or incentive delivery. Terdapat tiga tipe pemasar yaitu Product-Driven Marketers, Distribution-Driven Marketers, dan Customers-Driven Marketers. Product-Driven Marketers memusatkan perhatiannya pada diferensiasi produknya terhadap produk lain. Distribution-Driven Marketers merupakan pendekatan semi-mass marketing, pemasar ingin memberitahukan kepada publik mengenai kesenangan dan keuntungan yang dapat diperoleh melalui produknya. Customers-Driven Marketers adalah pemasar yang mengutamakan harapan dan keinginan customer-nya, needs and wants-nya.

Nah, dalam penyampaian pesannya, tipe ini merumuskan pesan sesuai dengan metode pemasarannya itu sendiri, yaitu melihat customer lebih dahulu, dapat didasarkan menurut dua tipe pertimbangan, yaitu relevance dan receptivity. Relevance berarti menentukan apa yang dapat menjadi pesan yang relevan bagi customer. Sedangkan receptivity adalah elemen pertimbangan yang melihat kapan customer itu dapat menerima pesan yang pemasar beriklan. (dilihat dari sisi customer), bukan kapan waktu yang baik untuk memberikan pesan tersebut (dari sisi marketer).

Selain itu, beberapa hal yang dapat menjadi tolak ukur dari penerimaan marketing communication oleh customer adalah dari sisi product design, pricing, distribution, advertising, sales promotion, in-store displays, direct mail dan customer service.

Dalam kasus ini, implementasi IGMC Sony Ericsson akan dibahas dari segi penyampaian pesan, khususnya dalam periklanannya saja untuk tipe W910i, dan W908c. Di India, kebudayaannya sangat kental dengan tarian daerahnya. Semua film India, pasti bersyaratkan budaya India tersebut. Orang India sangat senng menari apalagi dengan ritme dan irama budaya mereka. Nah, kondisi seperti ini dilihat oleh pemasar SE sebagai kesempatan khusus untuk memesarakan Handphone tipe W910i. Iklannya dibentuk sesuai dengan budaya India. Bintang iklannya ditentukan ialah bintang Film India yang terkenal ganteng dan pandai menari. Ide cerita iklannya ialah menunjukkan kemampuan W910i untuk mengaplikasi ”shake” dalam pengoperasian walkman-nya untuk berpindah ke lagu berikutnya. Di iklan ini, sang bintang film bertemu dengan seorang perempuan kemudian menari dengan 3 tipe lagu yang berbeda, yaitu lagu India, lagu regge, dan kemudian lagu dansa modern. Dikisahkan bahwa setiap kali menguncang W910i, maka lagu akan berganti. Di sini, yang menarik adalah SE memperhatikan budaya India yang suka sekali menari ala India, jadi mereka mengunakan pendekatan itu dlam beriklan.

Sedangkan di Cina, iklan W908c dibuat dengan versi Cina yang berbeda. Orang Cina sedang gemar dengan lagu slow dan romantis. Kebanyakan lagu yang disukai adalah lagu yang romantis, dengan video clip yang ceritanya sedikit drama serial. Nah, SE menggunakan pendekatan ini dalam iklannya di Cina. Iklan W908c dibuat seperti video clip dengan penyanyi laki-laki yang terkenal di Cina, sedang memainkan piano dan sambil bernyanyi (lagu romantis dan sedikit sedih), ia menyalakan handphone tipe W908c miliknya dan meletakkannya di atas piano. Lalu, cerita dalam video clip dilanjutkan dengan munculnya seorang wanita yang sedang duduk sendiri menanti telepon dari sang kekasih. Cerita berlanjut ketika keduanya akhirnya melakukan panggilan telepon plus dengan melakukan video call. Nah, di sini menunjukkan kemampuan W908c dalam bidang 3G, video call. Dua pendekatan yang sangat berbeda bukan, antara India dan Cina? Namun itulah yang dilakukan SE, dan itu berhasil menarik perhatian. Keduanya menjadi pesan yang relevan bagi masing-masing target audience.

Maret 18, 2008

Black & white sandwich cookies…guess what?

Diarsipkan di bawah: Studi Kasus Individu — zara15 @ 3:38 am


Case Study 6 : Who doesn’t love OREO ?

Siapa yang tidak kenal sandwich cookie satu ini. Bentuknya mudah diingat, bulat, hitam, dan terdapat krim ditengah-tengahnya. Barangkali hal ini juga yang menjadi asal usul namanya, ‘re’ merupakan potongan kata dari cream yang dihimpit dua cookies berbentuk ‘O’ menjadikannya Oreo (wikipedia). Oreo diproduksi oleh Nabisco sejak 1912. Nabisco yang ber-headquarter di East Hanover, New Jersey, merupakan subsidiary dari parent company Krafts Food.

Awalnya Oreo dibuat untuk pasar orang inggris (british) yang tersebar di Amerika maupun Eropa, karena biskuit mereka menurut Nabisco terlalu sederhana. Logo Nabisco yang bergambar elips horizontal yang diatasnya terdapat bentuk menyerupai antena diklaim oleh perusahaan sebagai simbol kualitas Eropa. Sementara di beberapa negara selain AS, logo ini seringkali diganti dengan logo Kraft Food. Sedangkan di Canada, logo Nabisco digantikan oleh brand Christie.

Dalam perkembangannya, Oreo menjadi brand yang sangat dekat dengan masyarakat. Karena rasanya yang enak, sejak kemunculannya banyak jenis makanan atau minuman yang mengandung Oreo sebagai bahan bakunya. Oreo dipakai untuk membuat menu baru bagi eskrim, milkshake, pancake, sampai pizza. Sehingga terciptalah menu-menu seperti Cookies ‘n Cream (New Zealand Ice Cream), Oreo cheese pancake (Pancious), dan Oreo Pizza (Domino’s Pizza). Kehadiran Oreo nampak memberi inovasi baru bagi industri makanan di dunia.

Agar selalu dekat dengan konsumen, Oreo menjalin brand relationship lewat hal yang disukai banyak orang seperti Film. Oreo mengeluarkan produk-produk temporal untuk mendukung kegiatan promosi film-film tertentu seperti Shrek, Hulk, dan X-men. Selain itu di beberapa tempat, Oreo juga membuat produk temporal dalam rangka Halloween, Natal, atau musim semi dengan mewarnai krim tengahnya dengan warna oranye, merah, dan kuning. Meski begitu, orang tetap mengidentikkan brand Oreo dengan warna hitam dan putih, warna original Oreo. Ini bisa menciptakan link antara Oreo – sandwich cookies – hitam pitih.

Oreo juga hits dengan slogan campaign “Twist, Lick, Dunk”-nya. Mungkin Anda ingat akan kata-kata “Diputar, dijilat, dicelupin!” yang muncul di iklan Oreo beberapa waktu lalu. Kampanye ini rupanya menciptakan semacam gaya memakan Oreo di masyarakat, dengan cara dicelupkan ke susu.

Dilihat dari beberapa program campaign-nya, Oreo membidik customer anak-anak dan remaja, dengan prospect keluraga. Terlihat baik dari penggunaan model iklan maupun tema promosi. Tahun 2008 ini, Oreo memulai program pemasarannya di AS dengan sebuah game bertajuk “Double Stuff racing League” (DSRL). DSRL diperkenalkan selama seminggu dalam rangka Super Bowl XLII, yang merupakan olah raga paling digemari di Amerika Serikat. Ini merupakan pertimbangan Oreo dalam marketplace measurement, dengan harapan mendapatkan return yang imbang dari customer dan prospect.

Dari sekian banyak yang dilakukan Oreo untuk tetap menjalin hubungannya dengan masyarakat, dengan 62.000 macam variasi di seluruh dunia, pantaslah bila penjualannya melebihi 490 miliar keping cookies di seluruh dunia. Hal ini menjadikannya ‘the best selling cookies of the 20th century’.

by : Zara Rimadhani 0905010948

Check it out :

www.wikipedia.com

www.nabiscoworld.com

Maret 17, 2008

Strategi Perubahan Identitas Korporasi HSBC

Diarsipkan di bawah: Studi Kasus Individu — muthia05 @ 11:01 pm

Dalam program Komunikasi Pemasaran Terpadu atau yang biasa disebut dengan IMC (Integrated Marketing Communication), suatu corporate image dan corporate identity merupakan suatu strategi penting yang dapat memperkuat posisi suatu perusahaan, terutama yang bisnisnya bersifat global. Hal ini dikarenakan keduanya memiliki pengaruh yang secara tidak langsung dapat menimbulkan persepsi tertentu di benak konsumen. Jika kedua aspek ini dapat dikelola dengan baik maka suatu perusahaan akan dapat bertahan, atau bahkan berkembang, di pasar global yang memiliki tingkat persaingan yang tinggi.Bila berbicara mengenai corporate image, maka hal in tidak terlepas dari strategi penggunaan corporate identity yang tepat. Hal ini juga yang diusahakan oleh Hong Kong and Shanghai Banking Corporation (HSBC). Sebagai lembaga penyedia layanan keuangan yang sudah mendunia, HSBC dituntut untuk dapat memberikan yang terbaik, tidak hanya bagi customer-nya, tetapi juga bagi masyarakat dunia. Suatu corporate identity juga berfungsi sebagai suatu simbol yang turut mengkomunikasikan pesan mengenai organisasi tersebut. Maka tidak salah jika HSBC mengambil langkah besar untuk melakukan perubahan pada logonya di tahun 1998. Pada saat itu, logo yang digunakannya berubah menjadi bentuk heksagonal berwarna merah dengan garis diagonal bewarna putih yang membentuk gambaran jam pasir berwarna putih di tengah bentuk heksagonal tersebut. Serupa dengan bendera milik perusahaan Hong Kong yang dibuat pada abad ke 19, desain logo tersebut dibuat berdasarkan salib dari Saint Andrew. Logo itu sendiri didesain oleh Henry Steiner, yaitu seorang Desainer Grafis. (http://wikipedia.org)Dengan adanya perubahan logo tersebut, turut pula menjelaskan bahwa sejak saat itu seluruh cabang yang berada dalam grup HSBC Holdings akan berada dalam satu bendera dan logo HSBC yang baru tersebut. Hal ini berarti di mana pun cabang HSBC berada, maka yang akan kita lihat adalah logo berwarna merah dan putih tersebut. Berdasarkan teori IMC, strategi yang digunakan HSBC ini adalah strategi monolithic di mana terdapat penggunaan satu bentuk visual yang berlaku bagi seluruh bagian suatu korporasi. Hal ini bertujuan untuk memudahkan identitas korporasi ini dikenal di mana pun konsumen melihatnya. Bagi HSBC sendiri perubahan logo dan unifikasi identitas ini memiliki dampak tersendiri bagi kinerja mereka. Dengan adanya logo ini, mereka lebih termotivasi untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen. Hal ini dikarenakan identitasnya yang sudah mendunia, memungkinkan munculnya tuntutan dari konsumen terhadap pelayanan yang berkualitas dan lebih baik. Selain itu, dengan slogan barunya ”The World’s Local Bank”, HSBC juga dituntut untuk selalu memberikan pelayanan kelas dunia dengan tetap memperhatikan kebutuhan budaya lokal di masing-masing cabang. Adanya bentuk corporate identity yang baru, juga turut memunculkan image yang baru di mata masyarakat dunia. Semakin besar suatu perusahaan maka akan semakin besar pula tanggung jawabnya terhadap masyarakat dunia. Salah satu bentuk penguatan image dari identitas barunya itu ialah bahwa HSBC turut pula mengadakan kerja sama dalam bentuk sponsorship dalam bidang olah raga. Hal ini merupakan suatu bentuk kepedulian HSBC terhadap masyarakat dunia yang diwujudkan dalam peningkatan kepedulian terhadap perkembangan di bidang kesehatan dan hiburan melalui sponsorship kepada berbagai kejuaraan balap mobil, hockey, sepak bola, dan lain-lain. Tidak hanya itu, HSBC juga mendirikan yayasan sosial yang setiap tahunnya memberikan beasiswa di bidang pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Rupanya, perubahan identitas tidak hanya berkutat di seputar bentuk fisik logo maupun slogan, tetapi lebih kepada penguatan image dan tanggung jawab yang juga semakin besar kepada masyrakat dunia.   MUTHIA AMALIA0905010565

Bunga, Bintang, dan Inisial LV

Diarsipkan di bawah: Studi Kasus Individu — muthia05 @ 11:00 pm

Bunga, Bintang dan Inisial LV 

Salah satu tahapan dalam Integrated Global Marketing Communication ( IGMC ) adalah pembentukan brand relationship. Seperti yang kita tahu bahwa dalam program komunikasi pemasaran, brand merupakan sesuatu yang berharga, khususnya bagi perusahaan, untuk dapat mengembangkan bisnisnya di pasar global. Hal ini karena secara tidak langsung brand turut ambil bagian dalam mengembangkan suatu hubungan (relationship) antara perusahaan dengan customer maupun prospeknya. Setiap customer memiliki gambaran tersendiri terhadap suatu brand. Hal inilah yang harus digali dengan baik oleh perusahaan agar dapat tetap mempertahankan posisinya di tengah persaingan yang ketat.

Hal inilah yang berusaha dilakukan oleh berbagai perusahaan multinasional ternama seperti Unilever, McDonalds, Toyota, Nike dan masih banyak lagi. Di bidang fashion, beberapa nama juga turut menganut pola yang serupa dengan cara memfokuskan pada pengembangan brand sebagai pernyataan diri dan pembangun hubungan dengan konsumen. Salah satu nama yang sudah sangat akrab, terutama di kalangan penggemar fashion adalah Louis Vuitton.Louis Vuitton adalah seorang perancang Perancis yang paling terkenal dengan barang-barang berbahan kulit yang dijualnya. Barang-barang tersebut dijual dengan merek yang sama dengan namanya. Vuitton mulai memproduksi bagasi di Paris pada tahun 1854, dan sejak saat itu perusahaannya menjadi pembuat barang-barang mewah yang terkenal. Vuitton meninggal pada tanggal 27 Februari 1982, namun tas Vuitton dan leathergoods (produk kulit) buatan perusahaannya masih adalah tanda kebesaran di seluruh dunia. Nama Louis Vuitton sendiri banyak diasumsikan sebagai barang atau tas yang dibuat dari bahan yang berkualitas tinggi. Sedangkan bahan yang digunakan adalah bahan sederhana namun hasilnya adalah barang yang mewah, dan itu membuat Louis Vuitton selalu menjadi trendsetter. Louis Vuitton selalu menggembangkan ide-ide untuk menciptakan produk-produk yang mewah. Karena hanya itu yang bisa menjadi nilai jual sebuah merek. Untuk menghindari peniruan, George Vuitton, putra Louis Vuitton, membayangkan sebuah image yang tidak bisa terpisah dari merek Louis Vuitton. Tahun 1896, dia menggambar bulatan berisi bunga berkelopak empat warna negatif. Lalu,  bintang bersudut empat warna positif dan negatif. Untuk menghormati sang ayah, George menambahkan inisial LV di antara bulatan bunga dan bintang tadi.  Lahirlah sebuah komposisi yang kemudian disebut Monogram dan menjadi ikon Louis Vuitton. Monogram itu lalu mengilhami berbagai merek ternama di dunia dengan  memakai logo sebagai motif dekoratif dan penanda identitas pada produk mereka. Tahun 1997, monogram berubah muda dan baru. Dimulai dari memoles monogram klasik paduan ekru dan kopi menjadi monogram vernis dalam warna pastel berkilau.Langkah ini merupakan salah satu bentuk inovasi dari Louis Vuitton untuk dapat tetap mempertahankan citranya sebagai produk yang bergengsi di benak customernya. Dengan inovasi, sebuah brand membuat calon pembeli jatuh cinta. Setelah itu, citra brand akan menancapkan cinta dengan kuat di hati pembeli, sehingga pembeli tak akan pindah ke lain hati. Selain itu, dalam sejarah berdirinya brand ini hingga sekarang, tak pernah sekalipun salah satu butiknya mengadakan sale atau obral. Ini menguatkan citra Louis Vuitton sebagai wujud investasi dan kemewahan. Prinsip mereka, kemewahan tidak diobral. Citra inilah yang menyebabkan Louis Vuitton tak pernah turun pamor dalam dunia fashion disamping kualitas produk fashion dan asesorinya yang brilian.                                

MUTHIA AMALIA

0905010565 

Dove—for Your Real Beauty Around the Globe! (part 2)

Diarsipkan di bawah: Studi Kasus Individu — anindhityasasti @ 7:25 pm

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Dove adalah salah satu produk yang terjual paling banyak di dunia dalam produk kesehatan kulit yang hadir untuk wanita yang menyadari bahwa kecantikan datang dengan bayak bentuk dan ukuran tanpa peduli pada dunia yang penuh dengan stereotype dan kebohongan ini. Pencapaian demi pencapaian telah diraih oleh brand yang lahir pada tahun 1957 ini. Berawal dari sabun batangan, kini produknya merambah sabun mandi, sabun cair, deodoran, sampo, body lotion, pembersih muka, kondisioner, dll dengan penjualan lebih dari 2,5 miliar Euro setahun di 80 negara di mana Dove dipasarkan. Setelah berpijak kuat pada sembilan kunci untuk mengembangkan integrated global marketing communication-nya, Dove rupanya juga piawai dalam langkah-langkah menapaki IGMC.Dove adalah brand yang sangat peduli dan berusaha dekat dengan konsumennya. Dove ingin menjadi sahabat, bukan hanya sebagai produk yang dibeli dan melihat konsumen sebagai profit. Database konsumennya sangatlah penting bagi Dove dan Dove tahu persis siapa konsumennya, seperti apa mereka, apa yang mereka sukai, berapa penghasilan mereka, seperti apa gaya hidupnya, dll. Dari database yang akurat tersebut, Dove mampu menentukan contact points (bagaimana cara-cara konsumen kontak dengan brand) dan memahami contact preference konsumen (cara-cara yang dipilih konsumen untuk kontak dengan Dove) yaitu dengan iklan, artikel tentang Dove, personal experience (below the line), word of mouth, event, melalui logo Dove di manapun, dll.Brand adalah salah satu aset paling berharga yang bisa dikontrol perusahaan. Brand Dove harus punya nilai yang kuat yang membuat konsumen ingat pada brand tersebut. Dove sebagai produk yang peduli pada wanita dan menghargai mereka apa adanya serta mengajarkan bahwa setiap wanita itu cantik tanpa peduli stereotype telah menanamkan nilai positif itu di benak konsumennya. Hal ini memberikan nilai yang baik pula pada brand Dove. Dengan simbol merpati Dove dan warna putih-biru khas Dove, ini juga merupakan nilai yang melekat pada Dove yang menguatkan brand Dove sebagai produk perawatan diri yang peduli pada konsumennya, para wanita—yang semuanya cantik.Pesan yang dipilih Dove rata-rata berisi pesan yang positif, membangkitkan rasa percaya diri kaum perempuan, dan selalu menyayangi diri. Iklan dan kampanye Dove selalu menekankan bahwa semua perempuan itu cantik dan sudah kewajiban perempuan untuk merawat kecantikan itu. Pesan Dove adalah menjadi diri sendiri yang unik. Media yang dipilih pun yang women-friendly, yang dirasa dapat menyampaikan maksud dan pesan Dove dengan maksimal kepada konsumennya.Dove mengalokasikan dana yang cukup besar untuk beriklan dan merealisasikan contact points-nya. Dengan dana yang cukup besar untuk melakukan “kontak” dengan konsumennya ini, diharapkan konsumen Dove akan merasa dekat dengan Dove, dan terus membeli Dove. Dengan demikian, dana yang dikeluarkan Dove sebenarnya bertujuan agar Dove mendapat lebih banyak profit dari penjualan produk dan tentu saja sambil tetap menjaga brand awareness dan brand loyalty.Sheer moist for your whole body, everyday. Let’s celebrate your beauty, Dove way!

Maret 11, 2008

Integrated Global Marketing Communication : Mc Donald

Diarsipkan di bawah: Studi Kasus Individu — nurinanina @ 4:16 pm

Nurina D. A

Integrated Global Marketing Communication : Mc Donald

Ada 8 langkah (step) dalam proses perencanaan Integrated Global Marketing Communication. Namun, tidak semua langkah tersebut akan dibahas dalam respon paper ini, hanya 2 dari 8 yang akan dicoba untuk dibahas. Keduanya adalah Customer / Prospect Valuation dan Marketplace Measurement.

Yang dimaksud sebagai Customer / Prospect Valuation adalah bagaimana perusahaan dalam menginvestasikan sumber dayanya mempertimbangkan prospek customernya, mana customer yang tepat atau terbaik untuk dibidik. Secara keseluruhan, perusahaan tidak menganggap bahwa cost atau biaya yang terjadi pengeluaran atau expense, melainkan investasi. Kita menganggap ada “Income Flow” dari customer ke produsen, dimana Income Flow ini harus terus menerus dijaga kesinambungannya. Jadi, ada financial value dalam menentukan customer serta dalam men-desain produk yang sesuai dengan customer.

Sedangkan yang dimaksud dengan Marketplace Measurement adalah kemampuan perusahaan untuk menentukan tempat / pasar (market) yang tepat untuk produknya agar senantiasa dapat terjangkau oleh customernya. Sehingga nantinya perusahaan bisa memperoleh return (imbal hasil) atas investasinya kembali dalam jangka waktu yang telah direncanakan sebelumnya. Jadi ada dimensi waktu, customer, investasi dan messages (pesan) suatu produk yang perlu diikutsertakan dalam penentuan marketplace ini.

Untuk menjelaskan keduanya, diambil contoh perusahaan multinasional yaitu McDonald. Mc Donald sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di industri makanan siap saji telah mampu membidik pasarnya secara tepat dengan berbasis pada customernya. Hal ini terlihat dari, ketika pertama kali Mc Donald masuk ke Indonesia, Mc Donald belum melakukan inovasi atas produknya.

Mc Donald masuk ke Indonesia pertama kali sebagai perusahaan burger dan kentang, belum melakukan pengembangan atau differensiasi produk. Sedangkan pada saat itu, pesaing yang ada yang telah lebih dahulu menguasai pasar seperti Kentucky Fried Chicken (KFC), Texas Fried Chicken (Texas), dan California Fried Chicken (CFC), sudah memiliki konsumen royal masing-masing dan seperti sulit ditembus oleh pemain baru seperti Mc Donald.

Mc Donald pertama-tama masih mengandalkan burger dan kentang sebagai menu utama ang menjadi ciri khasnya sebagai restoran siap saji. Dapat dikatakan bahwa konsumen Mc Donald pada saat itu hanya terbatas pada kalangan tertentu saja. Dalam artian kalangan tersebut adalah mereka yang menyukai / terbiasa menyantap burger dan kentang sebagai makanan sehari-hari. Menyadari bahwa segmen pasarnya terbatas, Mc Donald akhirnya memutuskan untuk melakukan inovasi atas produk yang sesuai dengan need customernya[1].

Inovasi produknya yaitu berupa tersedianya ayam goreng (fried chicken) sebagai salah satu menu utama di restoran tersebut, yang kemudian diikuti dengan kehadiran nasi. Keduanya dipilih dengan alasan bahwa orang Indonesia menyukai ayam goreng tepung sebagai salah satu makanan yang cukup lama dikenal oleh masyarakat selama bertahun-tahun. Sedangkan nasi dipilih karena merupakan makanan pokok orang Indonesia[2]. Dengan langkah tersebut, Mc Donald justru meraih pasar yang selama ini dikuasai pesaingnya, karena ketepatannya membaca situasi pasar dan mengetahui apa yang menjadi keinginan paling utama dari customernya.

Dengan didukung elemen promosi seperti TV-ad, iklan radio, dan print-ad, lagkah Mc Donald tersebut bertahan sampai sekarang. Dilihat dari kasus Mc Donald di atas, mengacu pada pembahasan pada paragraf sebelum ini, tindakan Mc Donald ini bisa dikategorikan sebagai Prospect Valuation disertai dengan Marketplace Measurement.




[1] www.google.com, “Asal Mula Mc Donald”, diakses tanggal 7 Maret 2008 pukul 21.00 WIB.

[2] www.google.com, “Sejarah Mc Donald dan Perkembangannya Kini”, diakses tanggal 8 Maret pukul 16.00 WIB.

Integrated Global Marketing Communication : Mc Donald

Ada 8 langkah (step) dalam proses perencanaan Integrated Global Marketing Communication. Namun, tidak semua langkah tersebut akan dibahas dalam respon paper ini, hanya 2 dari 8 yang akan dicoba untuk dibahas. Keduanya adalah Customer / Prospect Valuation dan Marketplace Measurement.

Yang dimaksud sebagai Customer / Prospect Valuation adalah bagaimana perusahaan dalam menginvestasikan sumber dayanya mempertimbangkan prospek customernya, mana customer yang tepat atau terbaik untuk dibidik. Secara keseluruhan, perusahaan tidak menganggap bahwa cost atau biaya yang terjadi pengeluaran atau expense, melainkan investasi. Kita menganggap ada “Income Flow” dari customer ke produsen, dimana Income Flow ini harus terus menerus dijaga kesinambungannya. Jadi, ada financial value dalam menentukan customer serta dalam men-desain produk yang sesuai dengan customer.

Sedangkan yang dimaksud dengan Marketplace Measurement adalah kemampuan perusahaan untuk menentukan tempat / pasar (market) yang tepat untuk produknya agar senantiasa dapat terjangkau oleh customernya. Sehingga nantinya perusahaan bisa memperoleh return (imbal hasil) atas investasinya kembali dalam jangka waktu yang telah direncanakan sebelumnya. Jadi ada dimensi waktu, customer, investasi dan messages (pesan) suatu produk yang perlu diikutsertakan dalam penentuan marketplace ini.

Untuk menjelaskan keduanya, diambil contoh perusahaan multinasional yaitu McDonald. Mc Donald sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di industri makanan siap saji telah mampu membidik pasarnya secara tepat dengan berbasis pada customernya. Hal ini terlihat dari, ketika pertama kali Mc Donald masuk ke Indonesia, Mc Donald belum melakukan inovasi atas produknya.

Mc Donald masuk ke Indonesia pertama kali sebagai perusahaan burger dan kentang, belum melakukan pengembangan atau differensiasi produk. Sedangkan pada saat itu, pesaing yang ada yang telah lebih dahulu menguasai pasar seperti Kentucky Fried Chicken (KFC), Texas Fried Chicken (Texas), dan California Fried Chicken (CFC), sudah memiliki konsumen royal masing-masing dan seperti sulit ditembus oleh pemain baru seperti Mc Donald.

Mc Donald pertama-tama masih mengandalkan burger dan kentang sebagai menu utama ang menjadi ciri khasnya sebagai restoran siap saji. Dapat dikatakan bahwa konsumen Mc Donald pada saat itu hanya terbatas pada kalangan tertentu saja. Dalam artian kalangan tersebut adalah mereka yang menyukai / terbiasa menyantap burger dan kentang sebagai makanan sehari-hari. Menyadari bahwa segmen pasarnya terbatas, Mc Donald akhirnya memutuskan untuk melakukan inovasi atas produk yang sesuai dengan need customernya[1].

Inovasi produknya yaitu berupa tersedianya ayam goreng (fried chicken) sebagai salah satu menu utama di restoran tersebut, yang kemudian diikuti dengan kehadiran nasi. Keduanya dipilih dengan alasan bahwa orang Indonesia menyukai ayam goreng tepung sebagai salah satu makanan yang cukup lama dikenal oleh masyarakat selama bertahun-tahun. Sedangkan nasi dipilih karena merupakan makanan pokok orang Indonesia[2]. Dengan langkah tersebut, Mc Donald justru meraih pasar yang selama ini dikuasai pesaingnya, karena ketepatannya membaca situasi pasar dan mengetahui apa yang menjadi keinginan paling utama dari customernya.

Dengan didukung elemen promosi seperti TV-ad, iklan radio, dan print-ad, lagkah Mc Donald tersebut bertahan sampai sekarang. Dilihat dari kasus Mc Donald di atas, mengacu pada pembahasan pada paragraf sebelum ini, tindakan Mc Donald ini bisa dikategorikan sebagai Prospect Valuation disertai dengan Marketplace Measurement.




[1] www.google.com, “Asal Mula Mc Donald”, diakses tanggal 7 Maret 2008 pukul 21.00 WIB.

[2] www.google.com, “Sejarah Mc Donald dan Perkembangannya Kini”, diakses tanggal 8 Maret pukul 16.00 WIB.

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.